Serupa tapi tak membosankan




Tuesday


kriiiing.....kriiiiiiing...


Bangun sambil nyanyiin lagu kebangsaan sejak kecil imut dulu...


bangun tidur ku terus mandi tidak lupa naa na naa naa na


hmm 8 teng on the crowded traffic to office..........


................................


wah udah jam 5....


yo puuuuulang yuuk


ga sabar neeh ampe di kos sweet kos

dan buruan cium warneeeeeeeeeeeeeeeeet



Wednesday


kriiiing.....kriiiiiiing...


bangun tidur ku terus mandi tidak lupa naa na naa naa na


habis mandi kungantor lagi....ugh


wah udah jam lima....


baalik...baalik(kaki dua2nya dihentakkan bergantian ke tanah)


...........................


hmmmm rindu liat shoubox baruku



Thursday


kriiiing.....kriiiiiiing...lagi


bangun tidur ku terus mandi tidak lupa ...wadduh siaul lupa bawa sikat

gigi....ugh


hmmm apa lagi yaa?


mran kamu ga ngantor???


hehehehe iyya yah ngantor ...ugh


bla...bla...bla


jam limaaaa lagi bo'....


(dengan gaya tarzan manggil teman2 hewannya)
Auouououooooo pulang yoooouououo


dan ehm..ehm guess what...blajar blog lagi..


Friday


sayup-sayup terdengar....

kriiiing.....kriiiiiiing...(pelan sih)


bangun tidur ku terus mandi tidak lupa (sampoo...hmm ada kok...


odol weits tumben diinget...apalagi yaa.....weiks......


sabuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun)


insiden sabun tak menggoyahkan imanku tuk tetap ngantor


sekali kotor tetap ke kantor hidup ngantor.......eleuh


wah jam lima lagi...


tp kali ini duluan teman yang nyapa


mran pulang yuk....


maaf sebentar lagi..masih ada kerjaan dikit....hueks



It's almost a boring week

Baca Selengkapnya..

Hmm Senin lagi. Ngapain yah?


Devil : Woi ini khan hari senin


Aku : Kata siapa? sok akrab lu


Devil : ??? :(


Angel : Jangan gitu donk mran. gitu-gitu dia khan setan..dimana2 tu yee yg namannya devil itu sok akrab..ga gaul lo..


Devil : tau' tuh nasehatin dia donk njel


Angel : diam lo, aaku nasehatin dia?


Devil : trus siapa lagi donk?



Alah puyeng....puyeeng..gocap tambah gocap cepe' deh


Biarin aja dah..mereka berdua, aku khan dah dewasa, punya schedule sendiri...


senin? ngapaian yah? wah nomat neeh, langsung mikirin nomat yah? masih abg

kalee..hehehehe, sekali-kali refreshing augh setelah santai berhari-hari..



telp 108..trus tanya harga dan judul-judul film yg lagi

on...bla..bla..bla...akhirnya sampai juga di Bioskop BIP, masuk Bioskop mata ini

langsung tertuju pada Judul film yang kan tayang hari ini: Casino Royal Huek

(muntah pada pandangan pertama), ga tau dari dulu alergi nonton 007..ga ah, ada
film dlm negeri nih...

Bangku Kosong(kosong? kosong kok dinonton seeh?), trus apalagi yah..mm Cinta pertama?

lagi-lagi temanya melo pa ga ada tema lain?, rasa-rasanya setahun ini film

Indonesia bertemakan cinta mlulu udah kebanyakan kalee..Ada apa seeh dengan cinta?


wah ada film menarik neeh Eragon, ini khan dari novel karya Christopher Paolini,

trilogi dari Inheritance Trilogy. Novel keduanya berjudul Eldest, dan Novel yang

ketiga masih dalam kepala penulisnya, tapi kabarnya judul novel yang ketiga

adalah Empire.(sambil telunjuk di dagu, gaya kurang meyakinkan)

hmmm tiket udah ditangan..


Udah dulu yaa


Nonton aaaah...


"buk" diem lo!!


maap...ceritanya lanjut besok aja yaah..


"buk"

Baca Selengkapnya..

Jendelaku


Dari jendelaku kemarin
masih kulihat kau hai langit
teman pagi dan tehku
teman malam dan kopiku


Ada apa dengan jendelaku hari ini
kutak bisa memulai ritual minum teh pagiku tanpa langitku
kenapa kau ganti dia dengan gedung-gedung tinggi

kembalikan langitku
esok kan kuganti kau
dengan jendela yang kulihat darinya langitku yang biru





Baca Selengkapnya..

Story on The Week: da Feri jo bu Nila (Bang Feri dan Ibu Nila)


Masih ingat dengan perjalanan hidup Buyuang Feri (45) yang buta dan Nila (70), amai —sapaan akrab untuk ibunya— pertengahan April 2006? Ternyata, kehidupan yang dijalani dengan ikhlas, pantang menyerah dan (ini yang lebih penting dalam prinsipnya,—red) pantang untuk mengemis, justru menghadirkan ending bagaikan kisah sinetron. Keduanya, kini menjadi jutawan.

Ini bukan kisah sinetron. Di alam nyata, inilah yang terjadi. Dalam pahitnya kehidupan, ternyata masih ada anak manusia yang dijalani dengan penjiwaan tanpa mengeluh.


Nila dan Buyung, tercatat sebagai warga Padangarai Kenagarin Guguk VIII Kota Kecamatan Guguk Kabupaten Limapuluh Kota. Walau berada dalam himpitan kehidupan yang cukup berat, namun keduanya taat dengan falsafah hidup, tiada kata menyerah.


Sehari-hari keduanya, hanya dengan berjalan kaki menjual sapu lidi keliling, melewati perjalanan sepanjang lebih kurang 40 km mengitari dua kabupaten dan kota. Saban hari keduanya menawarkan dagangan mereka menggunakan gerobak tarik, ke pasar-pasar di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh. Rutinitas itu telah dijalankan ibu dan anak sejak Soeharto diangkat untuk pertama kalinya menjadi Presiden RI.




Kepedihan hidup yang dirasakannya berawal dari kematian suaminya sekitar 39 tahun silam.




Semula kehidupannya berkecukupan dengan empat orang anak. Kemudian tiga orang anaknya yang merupakan adik Buyung, meninggal dunia sewaktu kecil, karena berbagai penyakit kampung yang tidak kunjung dapat terobati.




Kehidupannya mulai terasa payah, tak kala pendapatan yang ia dan suaminya peroleh dari hasil pertanian, mulai digerogoti untuk biaya berobat anak-anaknya itu. Namun mereka tabah. Bak disambar petir, ketika ia tengah asik menikmati karunia Tuhan dengan anak-anaknya itu, ia harus kehilangan orang-orang yang mereka sayangi itu.



Penderitaan Nila bertambah besar, tak kala suaminya meninggal dunia. Kala itu, Nila baru berumur 25 tahun. Sejak itu mulailah babak baru dalam kehidupan Nila. Kisah Nila semakin terasa pilu, tatkala, setahun setelah kematian sang suami, Buyung anak satu-satunya yang sejak kecil diberi nama Feri, menderita penyakit campak berat.




Setelah coba diobati, namun ternyata jenis penyakit campak yang dialami anak itu telah akut. Disela-sela harus mencari kebutuhan sehari-hari, Nila mesti memikirkan biaya berobat Buyung. Akibatnya, Buyung merasakan penderitaanya yang tak henti-hentinya. Sampai ia harus mengalami kebutaan.



Meskipun pahit, namun kehidupan Nila tetap berjalan terus. Nila mengajari Buyung yang merupakan anak satu-satu nya itu untuk tetap berjuang menghadapi sisa-sisa hidup. Berlatar dari usaha yang juga telah mulai dikerjakan saat sang suami masih ada, Nila mulai mengkonsentrasikan diri dengan membuat sapi lidi.


Awalnya Nila yang secara langsung mencari pohon-pohon kepala yang dapat diambil lidinya. Namun karena kronologis penyakit asam urat yang diderita Nila, menyebabkan lama kelamaan ia menderita kelumpuhan.


Keduanya justru terus berjuang dan sabar dengan apa yang terjadi. Keduanya tetap bertawakal, harus tetap bekerja tanpa menyandarkan nasib kepada orang lain. Berpantang untuk mengemis.


Meski tak dapat melihat, ternyata Buyung bisa bekerja untuk menghidupi diri dan ibunya. Lalu sapu lidi tersebut mereka jual berkeliling pakan-pakan, seperti ke Limbanang, Danguang-Danguang, Kubang, serta pasar Payakumbuh.


Untuk membawa sapu lidi tersebut sampai ke pasar, Nila mengikat sepuluh sampai 15 sapu dengan tali,mengangkat dengan kepalanya, dan si Buyung mengikutinya dari belakang. Ketika Buyung bertambah dewasa, mereka berdua mengangkat sapu lidi tersebut, Buyung tetap berada di belakang ibunya ketika berjalan karena dia tidak bisa melihat.



Namun tatkala usia Nila semakin beranjak tua, dia sudah tidak kuat lagi berjalan kaki menjajakan sapu lidi buatan mereka. Tidak jarang Buyung menggendong ibunya untuk sampai di pasar. Ibunya yang memandu arah jalan dari gendongan Buyuang.


Tapi, sejak sekitar 15 tahun silam, karena tidak kuat berjalan kaki, akhirnya Buyung membuat gerobak dari kayu. Dia menarik gerobak itu sementara ibunya duduk di atas gerobak sambil mengendalikan jalannya gerobak. Tidak kurang 40 km jarak yang ditempuh keduanya pulang pergi saban hari untuk menjajakan sapu lidi buatan mereka.


Tidak Pernah Berkata Capek


Ketika ditemui koran ini, Nila tidak lagibisa berjalan karena kelumpuhan yang dialami sejak 15 tahun lalu. Ia hanya bisa menarik tubuhnya dengan mengandalkan kekuatan tangannya. Sisanya, tugas-tugas rumah tangga dan berjualan, dilakukan Buyung sambil mengikuti perintah Nila. Suara Nila yang keras dan bagi yang tidak biasa melihatnya, memang terdengar pemarah. Bayangkan, mulai dari pagi hari, Buyung telah dihardik dengan cercahan perintah, agar segera melakukan sesuatu jelang berjalan menuju pasar-pasar.


Mulai dari mencuci pakaian, memasak, dilakukan Buyung dengan bimbingan Nila. Bahkan sampai kepada mengangkat Nila turun rumah yang letaknya sekitar 50 centimeter dari tanah dilakukan Buyung sembari meraba-raba. Setelah sarapan pagi dengan apa adanya, lantas Buyung mulai menarik gerobaknya dengan berjalan sesuai petunjuk ibunya itu.

Tanpa mengenakan sandal dan topi penutup kepalanya, terlihat Buyung hafal dengan lubang-lubang jalan yang setiap hari dilewatinya. Sesekali ia meneriakan sapu lidi dan sejumlah alat kebutuhan dapur lain yang ikut dijual.

Puluhan kilo meter dilalui Buyung dengan menarik ibunya setiap hari. Namun itulah kekuasaan Tuhan, setiap dagangan mereka, hampir selalu habis dibeli orang lain. Bisa jadi karena rasa iba, banyak warga yang sengaja menunggu dagangan Nila, sembari membantu.

Bicara harga yang ditawarkan Nila, juga tidak terlalu mahal dibandingkan dengan harga ditoko. Sapu lidi yang diikat dengan diameter 30 centimeter itu, dijual Rp5.000, sementara pedagang harian di kedai-kedai menjual Rp4.000. Namun lebih disebabkan karena kemauan yang keras, dagangan mereka tetap habis.


Menariknya, menurut Nila, walau menjalani hidup yang sangat berat itu, Buyuang tidak pernah mengeluarkan kata-kata capek.

Kisah kehidupan yang dimuat koran ini, ternyata mendapat perhatian reporter Metro TV sehingga masuk acara talkshow Kick Andy. Acara tersebut kemudian menjadi jalan mengubah hidup mereka menjadi jutawan. Buyuang Feri dan Nila diantar reporter Metro TV Amfreizer dan beberapa orang pejabat dan anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan termasuk wartawan koran ini.

Walaupun duduk di depan pejabat tinggi negara, Buyuang Feri dan Nila masih sederhana layaknya orang kampung. Nila tetap menenteng sandalnya ketika berjalan. "Licin bana, beko jatuah," tutur Nila ketika dibimbing di kantor Metro TV. Maklum saja selama ini Ia tidak pernah pakai alas kaki.

Ketika berbincang-bicang di sela-sela acara talkshow, dengan Mufidah Jusuf Kalla dan menteri kesehatan gaya bicara mereka juga tak berubah masih sama seperti menjadi pejual sapu lidi di jalanan Payakumbuah. Masih lugu dan menjawab apa adanya dengan bahasa Minang logat Payakumbuh.

"Bilo pulang kampuang, Amai?" tanya Mufidah dalam bahasa Minang. "Tagantuang si Am jo Feri," jawabnya. Kedua nama itu, merupakan sapaan akrab Amfreizer dan Ferizal Ridwan.

Mereka memang tidak akan menyangka dalam hidupnya akan hadir dalam acara gemerlap stasiun televisi nasional tersebut. Buyung juga tidak begitu peduli, karena Ia tidak begitu jelas melihat, sedangkan ibunya tampak tak mengerti hanya diam saja.


Saat itu mereka akan menerima bantuan Rp70.800.000 dari sumbangan pemirsa stasiun televisi nasional tersebut. Uang tersebut ditambahkan oleh Menteri Perindustrian Fahmi Idris menjadi Rp100 juta. Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla juga tersentuh dan langsung memberikan dana Rp 50 juta untuk mereka.

"Mereka orang kampung saya, wajib bagi saya membantunya. Saya berharap kepala daerah dan tenaga kesehatan di Limapuluh Kota mampu mengurus mereka. Kalau saya lewat di sana pasti saya singgah," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari langsung meminta agar mata Buyuang Feri diperiksakan dulu di RSCM Jakarta. "Nanti hubungi ajudan saya. Besok bawa Buyuang Feri ke dokter ahli di sana, mana tahu masih bisa diperbaiki," jelasnya

Namun sayang matanya tidak bisa lagi diperbaiki. "Urat syaraf mata Buyuang Feri telah mati ," ucap dokter mata di RSCM. Tampaknya Buyuang Feri telah menerima takdirnya, Ia tidak mengeluhkan hal itu. "Kalau mancaliak saketek kalam jo tarang lai bisa wak ma," ujarnya.

Dalam acara tersebut Buyuang Feri dan Nila santai saja ketika pejabat negara tersebut, menyalaminya. Ia menangis di depan panggung, ketika pembawa acara Kick Andy, Andi Noya menceritakan Buyuang Feri akan sebatang kara jika ibunya meninggal dunia.

"Amai lah gaek. Jo sia wak iduiklai," ucapnya dalam bahasa Minang sambil mengusap matanya.

Ucapannya itu terpaksa diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh reporter Metro TV di Sumatera Barat Amfreizer, sehingga menyentuh perasaan semua yang hadir.

"Tarimo kasih banyak, Pak," ujarnya ketika menerima map tanda penerimaan sumbangan.


Setelah mendapatkan uang itu, apakah Buyung Feri dan Nila menjadi sombong? Ternyata tidak. Usai penerimaan uang ratusan juta itu, Buyuang Feri masih seperti dulu. Ia masih saja ceplas-ceplos dan sederhana. Menggunakan HP Ferizal Ridwan, Buyuang Feri menelpon saudara bapaknya di Bandung. "Pulanglah ka kampuang lai. Beko uda agiah pitih. Uda baru dapek pitih banyak," tuturnya melalui telepon

Termasuk usai acara, panitia Hari Ibu Nasional mengundang mereka mengikuti acara tersebut di Jakarta, Desember 2006. Buyuang hanya mengangguk. "Tu ka Jakarta lo awak liak, Mai?" ungkapnya minta persetujuan ibunya. Hal itu dijawab Amai dengan anggukan.


Ketika ditanyakan orang akan diapakan uang sebanyak itu, Buyung Feri mengatakan terserah mau diapakan. "Baa Amai?," tanyanya kepada Nila. Ibu dengan wajah penuh kerutan itu diam saja. "Bia si Am jo Feri tabuangan. Kamalo dibawok-bawok Nyo bunuah urang wak beko," lanjutnya di kamar hotel berbintang lima tempatnya menginap.


Ketika disarankan agar berumah tangga cepat, Amai tersenyum. "Lah patuik lo nyo babini mah," jelasnya. Tiba-tiba Buyung Feri berbisik, menanyakan kondisi Ibunya yang sudah tua. "Kalau indak ado amak tu ndak bisa nyo mancaliak bini wak do," tuturnya berbisik.


Mereka masih sederhana. Tidak begitu peduli uangnya sudah ratusan juta. Ketika ditraktir makan di hotel Bintang Lima, Nila malah memberikan uang yang terletak dalam saputangan kumalnya kepada Ferizal Ridwan. "Bayiaan samba ko ciek Feri," ucapnya mengeluarkan uang ribuan.


Pembawa acara Kick Andy, Andi Noya yang sekaligus Pimpinan Redaksi Media Indonesia mengatakan, banyak hal yang bisa diambil dari kisah mereka. "Kesederhaanan, Kegigihan seorang ibu untuk merawat anaknya. Keinginan mereka tidak mau mengemis," ucapnya di sela-sela acara.
Baca Selengkapnya..

Professor termuda di USA adalah orang Indonesia



NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD.Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.



Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.



Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.



Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.




Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC.



Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.



Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks(buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.



Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya.



"Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa- basi.



"Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.



Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orangtua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio,AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).



Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics, " jelasnya.



Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.



Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon.



Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.



Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.



"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.



September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology.
"Selain mengajar kelas- kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post- doctoral research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.



Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Menteri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.



Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.



Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orangtuanya sering membanding-bandingk an Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut."Jadi, terima kasih buat kedua orangtua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," ungkapnya.
Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya.



"Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya.



Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu.





Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.



Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" mengajar di Jepang.




Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang.Lebih - lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya.





"Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,"jelas Nelson.





Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu.



"Saya suka dengan nama Tansu, kok," kata Nelson dengan nada bangga.



Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.



Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas, " katanya.



Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS.



Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.



Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.



Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.



Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas III atau kelas IV di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar- benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama- nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik.





"Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.



Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat.



"Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya?



"Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he-he-he," katanya, menyelipkan senyum.



Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.



Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.



"Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset."






Sumber: Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika Serikat (PERMIAS) Washington DC

Baca Selengkapnya..

I have lived in Tamalanrea for 26 years..never leave it even one second, but to travel to others city was just my dream. On one second a chance come to me and I make a decision to catch the chance..Finally I found my self in some cities. Coming with my new desire to learn writing, a mixture occured. Try to write what I feel, see, taste, hear, with not enough experience in writing..

bookOnreading

bookOnreading
"Settingan tahun 1941 di sebuah daerah transmigrasi di Amerika. Dikaki pegunungan Allegheny yang terpencil itu terbentang kota Hyde Bend. Jantungnya adalah sebuah kilang baja; tulangnya, komunitas imigran Polandia yang rapat yang mendiami kota tersebut; dan darahnya, keyakinan Katolik mereka yang keras. Tetapi dalam jiwa kota itu terkubur rapat-rapat sebuah rahasia berbahaya yang mengelilingi kematian seorang pendeta yang sangat dipuja. "

postOn

commentOn

Name :
Web URL :
Message :

chatOnme

dewOnstreet

activityOndisblog