New Project

Sejenak terhenyak melihat kalender usang di meja kamarku, Juli 2008. Terasa baru kemarin merayakan tahun baru..sekarang sudah melewati seperdua tahun 2008. Halaman rumah yang penuh pepohonan mengingatkan kembali masa-masa saat kecil dulu, pernahku ditolong oleh ketinggian pohon jambu itu saatku hampir diterkam kucing kelaparan dua puluh tahun yang silam, juga lapangan badminton depan rumah yang membuatku sempat mewakili kejuaraan badminton tingkat SD se-Makassar.

Kualifikasinya saat itu bukan karena siapa yang jago maen. Tapi berhubung kejuaraan badmintonnya tinggal sehari, jadi guru menanyakan siapa yang bisa mewakili lomba badminton tsb?. Maka serempaklah seruangan menyuarakan suara bulatnya "imraaaan paak", mereka kompak memilihku karena depan rumahku ada lapangan badminton, dan yang tinggal dekat lapangan badminton pasti jago maen badminton, alasan yang sangat sederhana.


Menyesal saat itu mengapa lapangan badminton itu kusia-siakan, setiap hari ke lapangan tersebut hanya untuk memunguti bulu ato cook, ada kepuasan tersendiri setelah melem kembali bulu-bulu yang sudah rusak dan menggosok kepalanya dengan air sehingga tampak baru kembali lalu kumasukkan ke dalam tempatnya yang silinder, besoknya kutawarkan lagi ke bapak-bapak yang mau main badminton. Puas melihat hasil kreativitasku di pake oleh orang lain walau tidak bertahan lama. Hasil pertandingan badminton SD esok harinya pun dapat ditebak cuma sampai babak kualifikasi.

Sesaat masih seperti kemarin, baru saja kutuliskan dalam diari tahun 2004 ku. Cita-citaku yang ingin kuwujudkan adalah keluar dari daerah kecamatan yang selama 24 tahun tak pernah kutinggalkan sehari pun. Rumah dan sekolahku dari TK SD SMP SMU bahkan kuliah pun di kecamatan yang sama. Dengan afirmasi yang kuat mungkin alam sudah bosan merespon kilatan-kilatan impianku. Pada penghujung tahun 2005 kulaju speda motorku bersama rintik hujan dan seorang teman kuliah menuju bandara.

Temanku itu akan berangkat ke jakarta untuk mengikuti Tes masuk Badan Meteorologi dan Geofisika, iriku dan bangga dalam hati memiliki teman yang punya semangat seperti arai dan ikal. Sesak dada ini ingin melepas kepergian temanku itu, ke kota yang juga impianku dari kecil yang hanya bisa ku nonton di tv. Pilihanku saat itu adalah ingin melanjutkan S2 di universitas yang juga masih di tamalanrea, atau merantau ke luar sulawesi, walau bukan tuk sekolah hanya pelampiasan cita2 kecilku, hanya ingin keluar dari rutinitasku yang bagai dalam tempurung tamalanrea.

Tibalah saat berpamitan, namun seorang temanku yang juga akan berangkat ikut ujian ke jakarta belum juga datang, padahal semua boarding pass telah diambil, yang artinya tiket tidak bisa dibatalkan lagi, kata calo penjual tiket yang perawakannya agak tinggi dan agak sedikit garang, mungkin takut kalau temanku yang memesan lewat telpon itu tidak jadi berangkat, jadi dipasanglah muka garanknya agar kami terus menghubungi teman kami yang belum juga terlihat tanda-tanda akan datang di bandara ini.

Kulirik jam dinding bandara, lima menit lagi pesawat boarding. Empat menit..tiga menit, detik-detik sebelum pemberangkatan yang takkan mungkin kulupakan. Temanku yang satu itu masih tidak menampakkan tanda-tanda kedatangannya ke bandara. Ini berarti akan menghambat keberangkatan teman2 ku yang lain, atau kata calo itu itu, tiket yang akan hangus ini harus diganti..lima ratus ribu, saat itu walau kami bertujuh mengumpulkan uang saat itu pun tidak akan cukup tuk mengganti tiket.

Akhirnya saya pun tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutku saat itu, " bang, punya no. rek ga? nanti saya aje yang berangkat, minggu depan sa transfer uangnya ke rekening abang, gimana?" sesaat tapi tidak bisa ditarik lagi kata-kataku yang menyesal kukatakan karena klo diiyakan sama abang calo itu, berarti saya harus berangkat dengan baju di badan tanpa tas, bekal apapun, uang di dompet pun cum 12.000 tidak lebih, bahkan hp pun saat itu masih belum punya dan seminggu tuk mengganti uang calo itu dari mana, tapi melihat mukaku yang penuh keyakinan, abang itu lantas mengatakan...."yaaah dari pada hangus, nih, tapi awas yaah!!", begitulah kronologis pemberangkatanku ke luar dari tempurung secara tidak sengaja alias konyol....

Dua tahun telah berlalu, saya pun telah bekerja dalam sebuah perusahaan konsultan. Senangnya bukan main, dulu yang mondar-mandir di tamalanrea terus, sekarang bisa kemana-mana. Akhirnya kunikmati juga pekerjaan itu yang pas dengan jiwa explorerku, pertama kali menginjakkan kaki ke suatu daerah yang baru kumasuki, selalu kutunaikan ritual kesyukuranku, yakni menghirup udara sebanyak mungkin hingga memenuhi rongga dada, lalu kuhembuskan pelan-pelan....sembari mengucapkan Alhamdulillah. Mungkin ini pula yang dilakukan colombus saat menemukan pulau atau daratan-daratan baru, pikirku.

Tenggelam dalam rutinitas kantor dua tahun tidak melupakan cita-cita keduaku, yakni melanjutkan sekolah ke luar negeri..sesak dada ini kalau membaca buku jendela-jendela, atau ayat-ayat cinta, tersimpan di otakku bukan alur ceritanya tapi presisi keindahan yang digambarkan para penulis pada tempat para tokoh melamunkan sesuatu, berdiskusi sambil menyusuri trotoar yang penuh lalu lalang puluhan manusia dan kendaraan atau saat para tokoh memandang ke luar jendela kamar tidurnya memandang hamparan riak tinggi rendah bangunan kokoh ala viktoria atau sekedar mengusir burung-burung yang memenuhi taman tempat para tokoh biasa mengambil tempat menunggu seseorang...ugh...
Proyek memburu impianku yang terus memenuhi sel-sel otakku kusadari belakangan ini semakin sirna karena realita rutinitas kantor yang membutuhkan kefokusan dalam bekerja. Rel menuju impianku perlahan-lahan mulai mengabur tertutup kabut dan semakin asing tuk kususuri, seperti tak berujung.

Bulan juli ini pun ku putuskan untuk keluar dari perusaahaan yang memberiku makan di rantau. keputusan yang sangat sulit tapi demi proyek impianku, harus kuakhiri sekarang juga dan memulai sebuah proyek baru...Sekolah ke luar negeri.....Amiiiiiiin, Thank's to Arai dan Ikal.
Baca Selengkapnya..

The Winner

Ribuan orang yang berdesakan untuk bisa masuk dalam stadion Gelora Soekarno hari itu demi menonton perhelatan akbar dan jarang terjadi, bisa jadi pertandingan ini hanya akan datang sekali seumur hidup Andi. Timnas Indonesia Vs Bayern Munchen. Hanya saja banyaknya orang menyurutkan niatnya yang tadi sangat menggebu-gebu, dan akhirnya memilih pulang ke rumah.

Panasnya terik matahari jam delapan di terminal pulogadung mungkin tidak terasa bagi para ratusan pekerja yang memenuhi sesak terminal. Para penjaja asongan silih berganti sahut menyahut menawarkan minuman dingin obat dahaga para penunggu busway, bus-bus dan angkot. Demi tuntutan hidup orang-orang yang dicintai menanti sang kepala rumah tangga membawakan sesuatu yang bisa membuat asap dapur mengepul. Demi orang-orang yang dicintai, panas terik matahari tak terasa lagi.



Tapi semangat itu tidak nampak di raut wajah dan mata sayu mansur, sambil menyulut sebatang rokok yang dirogoh dari saku bajunya hanya memandang puluhan orang berebutan tuk bisa masuk ke busway berkapasitas terbatas, melirik ke puluhan pekerja berpakaian rapi memburu angkot jurusan kelapa gading, sia-sia menurutnya, memburu juga tidak akan mendapatkan tempat, pastinya membatin.

Andi dan Mansur hanya representasi diri kita yang kadang jika dihadapkan dengan situasi yang sama akan melakukan hal seperti itu pula. Nanti aja deh, besok aja gimana, atau lusa, minggu depan atau bulan depan. Memunculkan sifat menunda-nunda. Padahal banyak orang yang bergantung di pundak kita. Yakin bahwa kita memang mampu untuk melarat dan tidur di kolong jembatan, atau makan sekedarnya, tapi sanggupkah anak kita demikian, tegakah kita melihat orang-orang yang kita cintai setiap hari semakin mempererat tali pinggang untuk tidak memperlihatkan kelaparannya. They love you, but the question is, do you love them? Kita diberi kemampuan untuk menentukan ke mana bahtera ini akan menuju.

Fitrah manusia dilahirkan sebagai pemenang. History kelahiran kita yang membutuhkan usaha dan spirit pemenang lah yang membuat kita bisa bertahan dan mampu untuk menyingkirkan sel-sel sperma yang lain pada saat membuahi zygot.

Born to be a winner
Lalu mengapa kita pasrah dengan keadaan kita sekarang? Sebelum lahir pun kita ditakdirkan untuk jadi pemenang. Menyalahkan alam, menyalahkan orang lain bukan sifat pemenang. Hambatan dan rintangan kita yang harus kita lewati dan sulit adalah diri kita, we make our own limit. Ego melahirkan gengsi yang siap menyengsarakan diri kita sendiri bahkan anak-anak, istri, suami, orang tua kita akan sengsara dengan sifat pecundang kita, the loser.

Tidak akan dirubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri
Pada saat menjalankan shaum, kaum muslimin dihadapkan dengan perang yang sangat dahsyat, walau akhirnya dengan semangat keimanan dan percaya kepada janji Allah SWT, kaum muslimin dimenangkan oleh Allah SWT saat itu dalam perang badar. Saat kembali para sahabat diingatkan oleh Rasulullah, bahwa masih ada perang yang lebih dahsyat dari perang ini. Setengah kaget, para sahabat bertanya: Perang melawan siapakah wahai Rasulullah. "Yakni Perang melawan diri sendiri', Kata Rasulullah.

Tabe daeng
Baca Selengkapnya..

I have lived in Tamalanrea for 26 years..never leave it even one second, but to travel to others city was just my dream. On one second a chance come to me and I make a decision to catch the chance..Finally I found my self in some cities. Coming with my new desire to learn writing, a mixture occured. Try to write what I feel, see, taste, hear, with not enough experience in writing..

bookOnreading

bookOnreading
"Settingan tahun 1941 di sebuah daerah transmigrasi di Amerika. Dikaki pegunungan Allegheny yang terpencil itu terbentang kota Hyde Bend. Jantungnya adalah sebuah kilang baja; tulangnya, komunitas imigran Polandia yang rapat yang mendiami kota tersebut; dan darahnya, keyakinan Katolik mereka yang keras. Tetapi dalam jiwa kota itu terkubur rapat-rapat sebuah rahasia berbahaya yang mengelilingi kematian seorang pendeta yang sangat dipuja. "

postOn

commentOn

Name :
Web URL :
Message :

chatOnme

dewOnstreet

activityOndisblog