15 Detik



“lagi dimana sih chal?, sedetik tanpa suara.. mama dah nungguin sejam di stasiun, mama kan baru datang di kota ini”, suara seraknya menampakkan kegelisahan, suara dari seorang Ibu yang mengapit tas kecil di ketiaknya, sementara HP nya masih menempel di telinga, meninggalkan lagi sejenak dua buah kardus besar bawaannya di tempat duduknya, mencari kamar kecil. 10 detik…hening, menunggu jawaban di ujung telpon.

“tunggu ya bu…. lagi sibuk, Ichal kuliah neeh, setengah jam lagi deh bu yah”, empat detik ichal menjawab singkat telpon dari ibunya. Dengan tenang, digebernya kembali motor yang tadi dimatikannya, mencari suasana hening sebelum mengangkat telpon dari ibunya.

“yang, kita lanjutin date kita yah”, Ichal meninggalkan tempat itu bersama seseorang yang disayangi dan dicintainya lebih daripada seseorang yang lagi menunggunya sejam 15 menit yang lalu di stasiun.

“Cukup 15 menit untuk melahirkan Malinkundang baru di dunia ini”

3 comments:

  1. Astagfirullah al acim, naudzubillahi min dzalik.......

    ReplyDelete
  2. nice blog u have...salam kenal :)

    ReplyDelete

I have lived in Tamalanrea for 26 years..never leave it even one second, but to travel to others city was just my dream. On one second a chance come to me and I make a decision to catch the chance..Finally I found my self in some cities. Coming with my new desire to learn writing, a mixture occured. Try to write what I feel, see, taste, hear, with not enough experience in writing..

bookOnreading

bookOnreading
"Settingan tahun 1941 di sebuah daerah transmigrasi di Amerika. Dikaki pegunungan Allegheny yang terpencil itu terbentang kota Hyde Bend. Jantungnya adalah sebuah kilang baja; tulangnya, komunitas imigran Polandia yang rapat yang mendiami kota tersebut; dan darahnya, keyakinan Katolik mereka yang keras. Tetapi dalam jiwa kota itu terkubur rapat-rapat sebuah rahasia berbahaya yang mengelilingi kematian seorang pendeta yang sangat dipuja. "

postOn

commentOn

Name :
Web URL :
Message :

chatOnme

dewOnstreet

activityOndisblog